FF ONKEY : Mother and The Memories of Snow | Oneshoot

Title                           : Mother and The Memories of Snow

Author                     : diaonyou

Cast                            : Lee Jinki, his mother and Kim Keybum

Genre                        : Family, angst.

Length                     : Oneshoot

Rate                           : All age

Disclaim                 : SHINee bukan milik saya, tapi milik DIA, orangtua mereka juga SHAWOL. Tapi cerita ini mengalir dari kepala saya.

Warning                  :TYPO(S). huruf yang dicetak miring itu flashback

.

.

.

Derap langkah kaki memenuhi seisi rumah. Kaki-kaki kecil terus berlarian memanggil nama seseorang yang sangat disayanginya. Semua ruangan, telah ia singgahi. Namun, seseorang yang dicarinya tak jua muncul. Bertanya ke orang-orang yang bekerja di rumahnya pun seolah percuma, karena jawabannya akan sama, ‘tidak tahu’.

 

Air bening mulai keluar dari matanya. Ia segera mengusapnya, kemudian keluar luar rumah dan mengambil sepeda mungilnya. Ia mengayuh sepeda itu menuju Sungai Han, yang letaknya lumayan jauh dari rumahnya, sekitar 5km. Instingnya seolah berkata, jika seseorang yang dicarinya sedari tadi, kini berada di Sungai Han.

 

Sejenak, ia berhenti di tepi jalan. Merapatkan jaket tebalnya, kemudian memeluk dirinya sendiri. Mencoba menghangatkan tubuhnya. Namun, dinginnya udara di kala musim salju tak bisa menghangatkan tubuhnya, walau ia telah memeluk tubuhnya. Ia hanya ingin pelukan seseorang itu, seseorang yang bisa membuat rasa hangat di setiap jejak tubuhnya yang kini mulai menggigil.

 

Ia kembali mengayuh sepedanya. Terkadang ia menghela nafas kuat, karena lelah yang dideranya. Tapi, ia tak putus asa untuk terus menuju Sungai Han. Ingin rasanya ia segera bertemu seseorang itu.

 

Butuh waktu yang cukup lama, untuk lelaki mungil ini sampai ke Sungai Han. Ia meletakkan sepeda mungilnya, tatkala melihat Sungai Han yang mulai membeku karena cuaca ekstrim musim dingin kali ini. Nafasnya tak beraturan. Terlihat jelas bahwa anak lelaki ini sangat kelelahan. Namun, sebuah senyum tercipta di bibir apelnya, ketika ia melihat seseorang yang sangat ingin ia temui itu.

 

“Eomma..” teriaknya kencang seraya berlari menuju sang Ibu yang sedang menatap salju yang turun perlahan.

 

Wanita muda itu menoleh ke belakang kemudian membuka tangannya lebar, menyambut pelukan hangat dari sang buah hatinya. Kemudian ia menggendong lelaki mungil itu, mereka menikmati salju yang terus turun membasahi kota Busan.

 

“Eomma.. Apa kau tahu? Aku mencarimu, meneriaki namamu. Tapi, Eomma tak juga muncul.” Anak lelaki itu memeluk leher Ibunya dengan erat, seolah tak ingin berpisah. Sang Ibu, membelai rambut anak lelaki satu-satunya yang ia miliki.

 

“Maafkan, Eomma ne? Eomma hanya ingin menikmati salju yang turun di Sungai Han ini.” Anak lelaki itu semakin erat memeluk leher Ibunya. “Jinki-ah,­ kau membuat Eomma tak bisa bernafas. Jangan memeluk Eommai terlalu erat seperti ini.”

 

Jinki –anak lelaki mungil itu– segera melepas pelukan eratnya di leher Ibunya, “tapi Eomma janji ya, jangan pergi lagi.” Ia memandang Ibunya dengan lekat.

 

“Tentu saja. Eomma takkan pernah meninggalkanmu. Kau adalah malaikat bagi Eomma, malaikat yang sangat berharga dan harus dijaga. Eomma sangat menyayangaimu.” Wanita muda itu mencubit hidung anaknya dengan gemas.

 

“Aku juga sangat menyayangi, Eomma.” Ia tersenyum manis, menujukkan gigi kelincinya.

 

“Jinki-ah­, mengapa kau tahu Eomma berada disini? Apa orang-orang di rumah memberitahumu?” Tanyanya seraya menurunkan Jinki dari gendongannya.

 

Jinki menggelengkan kepalanya dengan cepat, “aku bertanya pada mereka. Tapi mereka hanya menggeleng dan menjawab ‘tidak tahu’. Kemudian aku menangis, karena Eomma tak juga muncul. Firasatku mengatakan Eomma berada di Sungai Han. Dan ternyata, aku benar.” Jinki tersenyum bangga, karena ternyata firasatnya tepat.

 

Wanita muda itu tersenyum manis, ia menyamakan dirinya dengan tinggi anak lelakinya itu, kemudian mencium pipinya. “Jinki­-ah, apa kau tahu? Eomma sangat bangga padamu.” Ia memeluk malaikat kecilnya itu.

 

“Kajja, kita pulang saja. Udara disini semakin dingin.” Ia menggandeng tangan mungil Jinki, “Jinki-ah, kau pulang dengan Eomma saja, ne?”

 

Dengan cepat, Jinki menggelengkan kepalanya, “aniyo, Eomma. Kita naik bersepeda bersama, Eomma dengan sepeda Eomma dan aku dengan sepedaku.”

 

“Apa kau tak lelah, sayang? Udara semakin dingin, dan jarak menuju rumah kita cukup jauh.” Ia membelai rambut Jinki dengan wajah yang terlihat khawatir.

 

“Eomma, tenang saja, ne? Aku bisa menuju kesini dari rumah. Berarti aku juga bisa menuju rumah dari Sungai Han ini. Eomma percaya padaku, kan?” Jinki mencoba meyakinkan Ibunya. Sang Ibu mengangguk tanda pecaya padanya.

 

Kemudian mereka beriringan menuju rumah dengan sepeda masing-masing. Jinki menayuh sepedanya di depan dan sang Ibu di belakang, ia terus mengawasi Jinki. Ia takut terjadi apa-apa dengan anak lelakinya itu.

 

Tak berapa lama, mereka telah sampai di istana terhangat mereka, rumah yang tak cukup besar namun nyaman untuk mereka tinggali.

 

Seorang lelaki muda berlari menuju ke arah mereka. Terlihat kekhawatiran dari wajahnya. Dengan cepat, ia menggendong Jinki kemudian mencium wanita muda itu, “kalian kemana saja? Kalian tahu, kalian membuatku khawatir.” Ucap lelaki itu.

 

“Kami habis dari Sungai Han, Appa.” Ujar Jinki dengan semangat.

 

“Naik sepeda? Dari rumah kita menuju Sungai Han kan cukup jauh.”

 

“Buktinya, aku kuat pulang pergi ke Sungai Han, appa. Aku juga tak lelah.” Jinki tersenyum dengan bangga.

 

“Ya sudah, kita bicara di dalam saja. Malam kian menjelang dan udara semakin dingin.” Lelaki itu menurunkun anak lelakinya dari gendongannya. Dengan cepat, Jinki menggandeng tangan Ibunya.

 

Mereka menuju ke dalam rumah. Jinki yang menggandeng tangan Ibunya, menggerakkan tangan Ibunya itu agar Ibunya dapat sedikit menunduk.

 

“Eomma, kapan-kapan kita menikmati salju di Sungai Han lagi, ne? Aku masih ingin melihat salju lagi dengan Eomma.” Bisiknya.

 

Sang Ibu menganggukan kepalanya. Dan tersenyum manis padanya.

***

Dua puluh tahun telah berlalu, semenjak kejadian Jinki menyusul Ibunya yang menikmati salju di Sungai Han. Tanpa terasa, waktu begitu cepat berganti meninggalkan memori masa kecilnya yang masih terpatri di dalam hatinya.

Ia memandang lekat selembar foto dirinya dengan sang Ibu yang sedang membangun ‘manusia salju’. Ia tersenyum samar, ketika membayangkan saat-saat menyenangkan seperti itu. Kini, ia alihkan pandangannya menuju jendela. Satu persatu salju turun perlahan di luar sana.

Ia sangat merindukan Ibunya. Semenjak ia menjadi pengusaha sukses di Seoul, ia jarang untuk bertemu dengan Ibunya. Hanya sekali dalam seminggu, ia dapat berjumpa dengan Ibunya. Karena pekerjaannya itulah, ia sering keluar negeri mengurus segala pekerjaannya.

Tanpa terasa air bening jatuh dari mata sabitnya, ia mendekap erat foto dirinya dengan sang Ibu. Ia tersenyum kembali ketika melihat foto itu, “eomma, aku sangat merindukanmu. Tunggu aku menemuimu, ne?” Ia mengelus foto itu dengan sayang.

“Jinki..” Sapa seseorang seraya menyentuh bahu lelaki itu dengan pelan, “kau habis menangis? Waeyo..?”

Jinki hanya menggeleng pelan, “aniyo, aku hanya kelilipan saja.”

“Sudahlah! Hentikan poker face-mu itu di depanku.” Ia memegang pipi chubby lelaki itu, “kau tak bisa membohongiku, Jinki-ssi.”

Arasso. Kau memang selalu tahu tentangku.” Ia melepaskan tangan seseorang yang berbicara padanya itu. Kemudian beranjak dari duduknya, mendekati jendela seraya menatap kembali salju dari dalam ruangannya.

Dengan cepat ia mengambil jaketnya yang terlampir di kursi kerjanya, kemudian ia berjalan keluar.

“Hei, Jinki! Kau mau kemana?”

Jinki mengacuhkan panggilan itu, ia tetap berjalan keluar ruangan. Memasuki lift menuju lantai 1. Kemudian ia berjalan keluar kantor. Mengulurkan tangannya untuk merasakan salju yang turun, lalu ia memutar tubuhnya. Layaknya anak kecil  yang baru pertama kali merasakan salju turun dan membasahi tubuhnya dengan butiran-butiran kecil berwarna putih.

Seseorang memakaikan syal di sekitar tubuhnya, “kau akan sakit jika tidak memakai syal, Jinki.”

Ia tersenyum polos dengan menunjukkan gigi kelincinya itu, “kau memang selalu perhatian padaku, Key-ssi. Saranghae.” Ia mencium pipi kanan lelaki berparas cantik yang sedari tadi menemaninya itu.

Key duduk di anak tangga seraya menatap Jinki, ia tersenyum manis melihat kekasihnya itu seperti anak kecil ketika salju turun. Jinki menyusul Key, dan duduk tepat disampingnya.

“Kau selalu terlihat seperti anak kecil, Jinki-ssi.” Key menempelkan telunjuknya ke pipi Jinki.

Jinki menatap langit yang masih menurunkan salju, “semua karena eomma. Ia yang membuatku menyukai salju.”

Key merangkul lengan Jinki seraya meletakkan kepalanya di bahu Jinki, “arasso, bagaimana jika besok kita mengunjunginya. Kau sudah lama tak mengunjunginya. Dan.. aku ingin bertemu dengan eomma, Jinki-ssi­.

Jinki mengelus jemari Key yang masih merangkul lengannya, “tentu saja. Aku yakin eomma pasti merindukanku juga. Aku akan memperkenalkanmu padanya. Aku yakin, kau dan eomma akan cepat akrab.”

Jinki kembali menatap langit, begitupun dengan Key. Mereka meresapi setiap butiran salju yang membasahi kaki mereka. Terutama Jinki, kenangan masih dan akan selalu terputar dikepalanya, terutama saat salju turun seperti ini.

***

Langkah kecil dari lelaki mungil itu kian meninggalkan jejak di timbunan salju. Ia masih masih berlarian di rimbunya salju. Ia tak pernah berhenti tertawa atau tersenyum, ketika seseorang melemparkan bola salju kecil padanya.

 

Ia terus saja berlari, tanpa mengetahui jika ada akar pohon yang tertimbun salju. Tanpa bisa ia hindari, ia menginjak akar pohon tersebut dan membuatnya terjatuh. Tubuhnya terlentang ke salju, wajah mungilnya terbenam.

 

Seseorang berlari kearahnya, membantu berdirinya kemudian memeluknya erat, “Jinki-ah,­ kau tak apa-apa, nak?” terlihat rasa khawatir di raut wajahnya.

 

Jinki masih memeluk ibunya erat, kemudian ia melepaskannya dan menatap sang Ibu dengan senyum mengembang di bibir apelnya, “haha.. tentu saja aku tidak kenapa-napa, eomma. Apa kau mengkhawatirkanku?”

 

Sang Ibu membelai rambut JInki dengan sayang, “tentu saja, eomma akan selalu mengkhawatirkanmu, anak eomma yang paling eomma sayangi. Cuma kau yang eomma miliki, malaikat kecil yang amat eomma cintai.”

 

Mereka berdua berjalan beriringan, terkadang Jinki melompat untuk meninggalkan jejak lebih dalam di timbunan salju.

 

“Jinki-ah, ayo kita pulang. Eomma akan memasakkan ayam panggang untukmu. Kau pasti menyukainya.”

 

Jinjjayo, eomma?” Tanyanya dengan mata berbinar. Ia selalu suka ayam yang dimasak oleh Ibunya, entah ayam panggang ataupun ayam goreng. Ia akan melahapnya sampai habis.

 

“Jinki, apa kau tahu mengapa saat itu kau mengetahui keberadaan eomma di Sungai Han?” Tanya Ibunya seraya menggenggam tangan kecil Jinki.

 

“Itu karena Jinki sayang sama eomma. Iya kan, eomma?

 

Sang Ibu membelai sayang rambut Jinki, “apa yang kau katakan itu benar. Tapi lebih tepatnya, karena Jinki selalu bersama eomma selama sembilan bulan. Jinki berada di dalam perut eomma, kemanapun eomma pergi. Terlebih, kau dapat merasakan apa yang eomma rasakan, entah saat eomma sedih ataupun senang. Dan semua itu, terbawa hingga kini. Karena darah eomma mengalir di darahmu juga, sayang.”

 

Jinki kecil hanya menganggukkan kepalanya, seolah mengerti apa yang dikatakan Ibunya. Walau nyatanya banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Ibunya.

 

***

 

Jinki menatap pemandangan dari kaca jendela kereta api yang dinaikinya. Tak pernah sekalipun, ia melepas pandangannya dari sana. Sepasang mata kucing menatapnya dalam, ia dapat merasakan apa yang dirasakan Jinki. Perasaan seorang anak yang telah tak bertemu dengan orang tuanya, terutama sang Ibu. Ia ingin membagi beban itu bersama, tapi ia mengerti jika Jinki masih ingin sendiri dan tak ingin di ganggu.

Pikiran lelaki tampan itu masih melayang ketika dirinya sakit dan sang Ibu akan merawatnya hingga ia sembuh. Ibunya akan tidur bersama, dan ketika malam ia akan merengek karena kepala yang semakin pusing, maka Ibunya akan bangun kemudian menenangkan dirinya. Membelai rambutnya, mencium keningnya dan menunggu dirinya hingga ia terlelap.

Kini, mata sabitnya ia alihkan menatap mata kucing yang sedari tadi menatap dirinya. Ia menggenggam tangan si pemilik mata kucing tersebut.

“Maaf, jika aku tak menuruti keinginanmu untuk naik pesawat menuju Busan. Padahal kau sudah memesan tiket untuk kita berdua.”

“Tak apa. Aku mengerti, Jinki.” Ia membalas genggaman tangan Jinki. Mencoba memberi kekuatan untuk kekasihnya yang kini tampak rapuh.

Eomma, selalu mengajakku naik kereta saat akan berlibur ke Seoul. Ia selalu bilang, lebih enak melihat pemandangan dari dalam kereta daripada dari dalam pesawat. Dari kereta, kau dapat melihat pemandangan yang lebih indah dan kau juga bisa menikmati perjalanan yang menyenangkan lebih lama.”

“Kau tahu, Jinki? Eomma-mu sangat beruntung memiliki anak sepertimu, yang tak pernah lupa dan sangat menyayanginya. Kau anak yang sangat berbakti, Jinki. Dan kau juga, sangat beruntung memiliki Eomma yang penuh kasih sayang sepertinya.”

Jinki menyenderkan kepalanya di bahu Key. Ia akan seperti itu jika ia sedang sedih atau dalam yang kacau. Ia berharap, Ibunya takkan membencinya karena ia mulai jarang menemui Ibunya.

“Aku jadi tak sabar menemui eomma-mu, Jinki.”

Jinki menegakkan tubuhnya kembali, memandang hamparan salju. Kemudian ia menatap Key, “aku rasa eomma akan menyayangimu seperti ia menyayangiku.”

Selama perjalanan mereka saling bercerita banyak tentang masa kecil Jinki, tentang dirinya dan Ibunya, tentang salju. Tentang masa-masa yang takkan pernah terulang lagi, walau kenyataannya ia mengulang masa-masa itu.

***

Seorang lelaki tengah duduk termangu di teras depan rumahnya. Ia memandang salju yang turun, menyenderkan kepalanya pada tiang penyangga. Sejenak, ia memejamkan matanya. Tak mampu membayangkan hari esok, hari esoknya lagi, dan seterusnya.

 

Seseorang membelai rambutnya dengan sayang. Perlahan ia membuka matanya, menggenggam tangan orang tersembut dengan lembut. Merasakan kulit yang mulai keriput karena usia yang semakin renta.

 

“Apa Eomma yakin, jika aku menerima pekerjaan ini dan dipindah tugaskan di Seoul?” Tanya lelaki itu ragu seraya bangkit dan memeluk Ibunya.

 

“Tentu saja, Jinki. Apapun yang menjadi keputusanmu, Eomma akan selalu yakin karena bagi Eomma, apapun itu asal kau dapat bahagia, Eomma juga pasti akan bahagia. Semenjak Appa tak ada disini, cuma kau yang eomma miliki di dunia ini, Jinki. Eomma tak perlu harta yang berlimpah, Eomma hanya ingin melihat kau bahagia. Itu saja sudah cukup.” Sang Ibu mengecup kening Jinki.

 

“Tapi Eomma, kau akan sendirian. Aku tak ingin membiarkanmu sendirian disini. Apa kau yakin tak ingin denganku ke Seoul, Eomma?

 

“Jika Eomma mengikutimu, siapa yang akan menjaga Appa disini? Ia pasti merasa kesepian, walau raganya telah terkubur. Eomma akan tetap disini, menemaninya. Dan Eomma yakin, jika sesuatu terjadi pada Eomma, dengan firasatmu itu, kau akan kesini menemui Eomma, bukankah begitu? Seperti saat kau menemui Eomma di sungai Han ketika salju pertama turun.” Kristal bening mulai membasahi mata sang Ibu. Dengan cepat, Jinki mengusapnya kemudian mencium kelopak mata Ibunya.

 

Ia memeluk erat Ibunya, orangtua yang ia miliki kini. Karena Ayahnya telah bahagia di tempat semestinya. Sesungguhnya, ia masih ingin berada di Busan menemani Ibunya. Ia ingin menjaga Ibunya layaknya sang Ibu yang selalu menjaganya ketika ia masih kecil.

 

Saat ia terjatuh dan menangis, sang Ibu dengan cepat menggendongnya kemudian menenangkannya. Ketika ia marah karena suatu hal, sang Ibu selalu membujuknya agar ia tak marah lagi. Jika sakit, nama sang Ibu yang dipanggilnya terlebih dahulu.

 

Ibunya selalu sabar menuntunnya hingga ia bisa berjalan, berbicara, bernyanyi, membaca  dan menggambar. Tak pernah sekalipun, sang Ibu tak pernah meminta pamrih apapun darinya, ia hanya ingin anaknya hidup bahagia. Itu saja. Ibunya tak pernah lalai sekalipun menjaganya. Maka dari itu, ia ingin membalas semua pengorabanan sang Ibu untuknya.

 

Jinki menangis dalam pelukan, “Jinki-ah­, mengapa kau menangis?” Tanya sang Ibu pelan.

 

Jinki bukanlah anak lelaki yang mudah untuk meneteskan air mata, jika bukan karena sesuatu yang menusuk hatinya. Jika ia menangis, maka ia sudah tak sanggup lagi untuk menyimpan beban yang menghantuinya. Dan air matanya akan menetes jika ia membayangkan sang Ibu.

 

Aniyo, eomma.” Ia tersenyum manis pada Ibunya, “lusa aku akan ke Seoul. Aku janji akan sering menemuimu disini, Eomma. Aku menyayangimu. Sangat.”

Di hari keberangkatan Jinki, sang Ibu selalu tersenyum, seolah ditinggalkan anak semata wayang untuk bekerja di Seoul. Di dalam hatinya, sebenarnya ia masih ingin Jinki menemaninya, tapi ia tak ingin apatis, membiarkan kebahagiaan anaknya terpuruk bersamanya di Busan. Ia sangat ingin melihat Jinki bahagia dengan kehidupan yang akan dijalani nanti dan juga akan cita-cita yang ingin JInki raih.

 

Memiliki Jinki adalah kebahagiaan tersendiri baginya, kini saatnya ia membiarkan anaknya yang berbahagia. Dan senyumannya, terselip air mata haru yang sedari tadi ditahannya. Melihat sang Ibu menangis, dengan cepat Jinki memeluknya. Membiarkan sang Ibu menangis dibahu kokohnya.

 

***

 

Jinki menghela nafas berat. Tanpa terasa, perjalanan yang memakan waktu cukup lama ini telah membawanya ke kampung halaman yang sangat dirindukannya ini. Kini, ia tak sendiri menuju Busan tetapi dengan seseorang yang dicintainya setelah sang Ibu, seseorang yang kelak akan menjadi pedamping hidupnya.

Mereka menyusuri jalan seraya menatap kehidupan di Busan. Tak ada yang berubah bagi Jinki, tapi ini merupakan sesuatu yang baru bagi Key, yang sebelumnya tak pernah ke Busan. Ia melewati trotoar jalan seraya bersenandung kecil. Jinki hanya tersenyum melihat kekasihnya ini, terkadang ia bersikap dewasa, terkadang juga ia layaknya anak kecil.

“Apa kau senang, aku membawamu ke sini? Ke kampung halamanku, tempat aku dilahirkan.” Ujar Jinki seraya menggandeng tangan Key.

“Tentu saja. Aku selalu senang, dan aku selalu ingin mengetahui banyak tentangmu. Jangan pernah kau menyembunyikan sesuatu dariku, Jinki.” Kemudian mereka tersenyum dan saling bercanda.

Jinki mendekap erat tubuhnya yang terasa dingin. Jalanan dipenuhi dengan salju. Ada beberapa anak yang bermain bola salju, ada juga yang membuat ‘manusia salju’. Ia kembali tersenyum, memori itu terkuak kembali ketika ia bermain salju dengan sang Ibu.

“Apa perjalanan kita masih lama?” Tanya Key seraya membetulkan syal yang digunakannya. Membuyarkan lamunan Jinki akan masa kecilnya.

“Tidak, sayang. Sebentar lagi kita akan sampai, apa kau lelah?”

“Aku takkan pernah lelah, apalagi jika ingin bertemu dengan calon mertuaku. Aku akan sangat senang, bahkan aku tak sabar ingin menemuinya.”

Mereka kembali menyusuri jalan. Sesekali mereka bercanda, agar perjalanan tak terasa membosankan. Tak berapa lama mereka telah sampai di sebuah tempat dimana sang Ibu berada.

Jinki bersimpuh kemudian mencium nisan yang berbentuk layaknya salib dan bertuliskan nama sama sang Ibu.

“Sesuai janjiku, padamu. Aku kembali menemuimu, Eomma. Maaf jika aku jarang mengunjungimu disini, tapi aku tak pernah lupa untuk selalu mendoakanmu dan juga Appa. Kau akan selalu berada di hatiku, sampai aku telah tiada. Kau yang membuatku menjadi seperti ini, membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Aku mencintaimu, Eomma.

Tanpa terasa cairan bening itu kembali menyeruak. Perlahan satu persatu salju mulai turun, butiran bening itu membasahi dirinya. Ia menengadahkan kepalanya ke atas, “lihat Eomma, salju turun kembali. Aku senang dapat melihat salju ini bersamamu walau tanpa ragamu. Namun sayang, kita tak dapat melihatnya kembali di Sungai Han seperti saat itu. Apa kau merindukan saat-saat itu, Eomma? Aku sangat merindukannya.”

Key merangkul Jinki yang masih menangis. Tanpa bisa ia pungkiri, air matanya pun ikut membasahi wajah yang tirus. Ia tak bisa membayangkan kekasihnya ini hidup tanpa kasih sayang orang tuanya, ia berjanji akan selalu berada di samping lelaki yang disayanginya ini, menjaganya hingga nafas mereka tak lagi berdenyut.

Eomma, aku membawa calon menantu untukmu, aku yakin kau akan senang jika kau dapat melihatnya. Ia sepertimu Eomma, tak pernah luput menjagaku, tapi, ia lebih cerewet daripada dirimu. Tapi, aku menyayanginya, Eomma. Ia adalah seseorang yang cantik yang akan menemaniku selamanya.”

Key tersenyum malu, membelai nisan calon mertuanya itu, “Eomma, izinkan aku menjaga anakmu, layaknya dirimu yang selalu menjaga Jinki ketika ia masih kecil hingga dewasa. Aku mencintainya, Eomma. Seperti dirimu yang mencintainya.”

Cukup lama mereka di makam ini. Mereka beranjak dari sana kemudian berjalan keluar dari area pemakaman. Mereka jalan bergandengan tangan di tengai hujan salju, yang –mungkin saja- disaksikan oleh orangtua Jinki.

Samar, di balik sebuah pohon. Wanita renta tersenyum manis melihat kearah seorang lelaki yang sedang bergandengan tangan dengan kekasihnya. Rasanya ia lebih ikhlas untuk pergi kini, ketika ia melihat sang anak telah bahagia dengan kehidupannya dan tak pernah sedikitpun lupa padanya. Ia berharap kekasih sang anak, bisa menjaga anaknya layaknya ia yang selalu menjaga anaknya dengan penuh kasih sayang.

Perlahan, wanita renta itu memudar berganti menjadi asap dan mengepul di udara bersama salju.

F I N

63 thoughts on “FF ONKEY : Mother and The Memories of Snow | Oneshoot

  1. Aigoo ini nyesek banget banyak norma” yg terkandung di dalam.nya,, seperti anak yg tak pernah melupakan kasih sayang orang tua.a dimasa muda.. Daebak thor mewek ane T.T

  2. hahhh.. ceritanya bagus.. manis banget tapi bikin nyesek..
    jadi kangen sama nyokap <3
    tapi disini jinkibum lebih kayak second-chracter yah..
    oh iya as we know the title of its story that makes jinki and his umma were being central character..
    nice sweet story :)

  3. Hikss :'( saya kira eommanya msh hidup eihhh pas udh nyampe dan ada tulisan ‘nisan’ saya lngsung ngedrop :'( awalnya pas baca bagian eommanya Jinki yg blang kalo Jinki bakal dpt firasat dgn sendirinya kalo terjadi sesuatu sama eommanya, saya pikir Jinki pengen balik ke busan krna emang dia dpt firasat ttg eommanya~~ eihh malah eommanya udh dluan meninggalnya :'( yg sabar ya Jinki msh ada Kibum koq yg bakal nemenin hidupmu :)

    Nice FF!!^^ saya ikutan nangis diujung ceritanya :'(

  4. ceritanya ngena banget,jadi keinget umma ㅠ_ㅠ
    apalagi sekarang aku jauh dari umma,karna pekerjaanku :'(

    aku pikir umma Jinki masih hidup,ternyata sudah meninggal,ini bikin aku sesek :'(

    Alloh….jaga Umma selalu..
    huaaaa pengen meluk Umma ㅠ_ㅠ

  5. Uwaaaa..keren..suka banget..
    Jadi kangen mama.. :'(

    Jinki sayang banget sma eommanya..begitupun sebaliknya..
    Endingnya huks.. T.T ternyata eommanya udah ditmpt yg abadi.. :(

    onkeynya juga so sweet… >_<

  6. baca ff ini jd kangen umma dirumah…..
    jadi terharu baca kisah jinki ma ummanya, tenang aja, kibum pasti bisa jagain jinki kok ommonim, hehe…
    bener-bener menyentuh… :-)

  7. DAEBAKK Thor (y)
    So Touching …
    Aku pikir eomma nya jinki masih hidup ternyata … #speechless
    sedih bgt baca nya sampai nangis :'( ini bnr2 sangat menyentuh .
    Bagus banget , keren thor …super sekali …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s